Pages

Tuesday, October 11, 2011

Drama!

Bukan. Gw bukan mau ngebahas materi pelajaran Bahasa Indonesia yang dipelajari baik di SD, SMP, maupun SMA. Lebih baik gw matiin laptop terus tidur. Beneran.
Sayangnya gw juga bukan mau ngomongin drama Korea kesukaan kalian semua, sori.
(No offense ya, gw juga suka kok nonton drama korea kadang-kadang, :D )

Drama. Drama macam apa sih yang ingin gw bahas kali ini?
Gw inget kemarin pas gw dalam perjalanan pulang ke kos (tepat di tikungan, berjarak sekitar 12,38573 m dari kos gw #ngasal) gw menemukan apa yang sekarang-sekarang ini kita sebut "drama".

Gw: *jalan kaki santai, mau belok ke arah kos gw*

Tiba-tiba pas gw belok gw ngeliat sepasang cewe-cowo.

Cewe: *nutup idung sama muka, mata agak merah, kayanya abis nangis/ lagi nangis*
Cowo: *muka frustrasi sambil ngeliat ke arah cewe*

Gw: *ngelirik ke arah mereka berdua, terus jalan agak cepet ke arah kos*

Pertama, gw jalan cepet-cepet pas ngelewatin mereka karena ga enak ada di antara sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Kedua, gw jalan cepet-cepet karena memang di tikungan situ bau sampah. 
Yes, benar sekali. Mereka berantem dengan sangat dramatisnya di depan sebuah tempat sampah yang sangat besar. Si cewe yang gw liat waktu itu, bersandar di dekat tempat sampah. 
Gw pikir-pikir lagi, kayanya tuh cewe nangis juga karena kebauan.
Pilihan tempat yang kurang tepat. 

Tapi begitulah pengalaman gw sewaktu menjadi saksi bisu (bukan bisul) sebuah drama.

Anyway, drama yang gw maksud adalah sebuah kejadian yang terjadi secara dramatis baik disengaja maupun tidak disengaja. Ada apa dengan drama?

Sadar nggak, nowadays, banyak banget drama yang terjadi di kalangan ... semua kalangan.
Baik di sinetron maupun reality, drama gak pernah lepas dari kehidupan kita.
Sebuah masalah kecil bisa menjadi akar dari rusaknya hubungan, baik keluarga, persahabatan, and last but not least, love.

Drama yang bisa terjadi di dalam kehidupan kita dalam seminggu, apalagi kita-kita yang beraktivitas dan berinteraksi dengan banyak orang, bisa jadi tidak terhitung jumlahnya.
Drama , bila asupannya sangat berlebihan terhadap seorang manusia, bisa menimbulkan rasa lelah dan putus asa.
Bayangkan saja misalnya ada seorang cowok yang tiap hari diomelin cewenya karena ga pernah mau nemenin belanja, pas kuliah ga pernah ngerti apa yg diajarin dosen, dijauhin teman-temannya karena bau badan, dan orang tuanya sering lupa kirim uang, padahal dy ngekos.

Serentetan kejadian tersebut berpotensi untuk menimbulkan drama (bosan hidup, tatapan kosong, atau emosi yang berlebihan terhadap semua orang sebagai pelampiasan rasa marah, sensitif, mudah menangis saat meratapi nasib, meraung-raung dan guling-guling di tanah,dsb)

Saat ini, drama berkembang biak seperti penyakit, dan most likely diderita oleh anak sekolahan dan mahasiswa. Apa obatnya? gw rasa belum ada penelitian khusus yang berhasil menemukan obat dari drama, dan kegalauan. Oh ya, drama dan kegalauan itu saudara dekat. Dekaaatt.. sekali.

Personally, menurut gw hidup itu tidak akan pernah bisa lepas dari drama. Tidak pernah. Maaf sekali.
Sekarang tergantung kita sendiri bagaimana menghadapi hidup, baik senang maupun susah.
Bahkan terkadang, drama itu sendiri lah yang membuat masalah kita semakin rumit. What do you think? :)


1 comment:

  1. Drama and hubbub, is not close.
    It depends on from what side the drama come from.

    ReplyDelete